Sejarah Aisiyah Pulau Punjung

Sejarah Aisiyah Pulau Punjung

 

Cetakan Pertama 04 April 2012

 

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SEJARAH SINGKAT MUHAMMADIYAH AISYIYAH CABANG PULAU PUNJUNG

Narasumber

Ibu Hj Maryam Umar Ibu Hj Badi`ah

Ibu  Hj Sofia Ibu Maria Kubtiah Ibu Sofiah Rasit

Ibu Rohanah

 

Penulis

Martinis AM

 

Editor

Mardi Habibra, S. PdI

 

KATA PENGANTAR

 

 
  Description: Basmalah-2

 

 

?????? ????? ????? ???? ??????

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah swt yang telah memberikan taufik dan hidayah-Nya sehingga penulisan Sejarah singkat Aisyiyah cabang Pulau Punjung ini dapat diselesaikan dengan baik. Kemudian sholawat dan salam untuk Nabi Muhammad saw yang telah meninggalkan dua pusaka (Al-Quran dan Hadis) sebagai motivasi bagi penulis untuk menyelesaikan Sejarah singkat Aisyiyah cabang Pulau Punjung ini.

Penulis mendapat begitu banyak uluran tangan dari berbagai pihak untuk dapat menyelesaikan penulisan Sejarah singkat Aisyiyah cabang Pulau Punjung ini. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi serta diiringi doa semoga apa yang telah diberikan dibalas oleh Allah dengan pahala yang setimpal.

  1. Ibu-ibu nara sumber

 

    1. Ibu Hj Maryam Umar
    2. Ibu Hj Badi`ah
    3. Ibu Hj Sofia
    4. Ibu Maria Kubtiah
    5. Ibu Sofiah Rasit
    6. Ibu Rohanah

 

  1. Ibu Pimpinan cabang Aisyiyah Pulau Punjung Tahun 2012

 

Teristimewa kepada seluruh yang ikut berperan serta dalam penulisan sejarah singkat Aisyiyah Cabang pulau punjung ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu namanya. serta keluarga besar Aisyiyah cabang pulau Punjung yang tidak pernah kering dengan doa dan memberikan motivasi serta bantuan materi kepada penulis hingga penyelesaian sejarah singkat Aisyiyah cabang pulau punjung ini.

Untuk itu disampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi- tingginya karena bantuan dan pengorbanan beliau semua penulis bisa menyelesaian sejarah singkat Aisyiyah cabang pulau punjung ini. Semoga Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang membalas dengan pahala yang berlipat ganda. Amin ya Rabbal Alamin

Pualau Punjung, 17 Maret 2012 Penulis

 

 

Martinis

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................... i

DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii

BAB I AWAL BERDIRI...................................................................................... 1

A.. Wali murid ikut serta menuntut ilmu..................................................... 1

B. Aisyiyah Bangkit di tahun 1935............................................................ 1

C. Berangsur-angsur Aisyiyah diperkenalkan............................................ 2

BAB II  Muhammadiyah...................................................................................... 4

  1. Tahun 1936............................................................................................ 4
  2. Umar salim, Ali Imran, dan Abdul Rahman di Penjara......................... 4
  3. Gotong royong memakan korban.......................................................... 5
  4. Mimpi yang mengembirakan.................................................................. 5
  5. Langkah Aisyiyah mulai diikuti............................................................. 6

BAB III MEMBANGUN..................................................................................... 7

  1. Aisiyah membangun Surau.................................................................... 7
  2. Aisyiyah dimasa penjajahan................................................................... 7
  3. Robohnya surau Aisyiyah...................................................................... 7

BAB IV PEROMBAKAN PENGURUS........................................................... 9

  1. Tahun 1950............................................................................................ 9
  2. Tahun 1955............................................................................................ 9
  3. Sekolah Surau Jambak......................................................................... 10
  4. Tahun 1965.......................................................................................... 11

BAB V AWAL BERDIRI TK AISYIYAH...................................................... 13

  1. Awal berdiri TK Asiyiyah................................................................... 13
  2. TK Asiyiyah diresmikan...................................................................... 13

BAB VI AMAL USAHA AISYIYAH............................................................... 14

  1. Tahun 1975.......................................................................................... 14
  2. Tahun 1980.......................................................................................... 14
  3. Tahun 1985.......................................................................................... 14
  4. Tahun 1990.......................................................................................... 14

BAB VII AISYIYAH DIZAMAN MODEREN............................................... 15

  1. Muscab Terpadu.................................................................................. 15
  2. Kegiatan Tambahan PCA.................................................................... 15
  3. Pengajian Aisyiyah pindah tempat...................................................... 16
  4. Aisyiyah di awal tahun 2012............................................................... 16

 

SEKAPUR SIRIH PENULIS

 

SEKAPUR SIRIH PENULIS

 

 

Description: D:GAMBARfoto2keluagaIMG_6759.jpgDalam penulisan sejara ringkas Aisyiyah cabang Pulau Punjung ini kami mohon Maaf kepada seluruh pembaca jika ada terdapat susunan atau penulisan atau cerita yang tidak disenangi atau kurang tepat dalam penyampainnya penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena cerita tentang Aisyiyah cabang Pulau Punjung ini penulis dapatkan dari beberapa nara sumber yang di anggap akurat, kemudian penulis susun kalimat-perkalimat sehingga tersusun menjadi sebuah buku ini.

Hanya sampai disini sejarah ringkas Aisyiyah cabang Pulau Punjung yang penulis ketahui dari tahun 1934 sampai 2012. Penulis yang tua ini berpesan kepada anak dan cucu supaya meneruskan langkah-langkah Aisyiyah dengan tidak bosan. Apapun yang terjadi Aisyiyah cabang harus tetap berjaya dan selalu maju kedepan, “Selamat menjalankanya”

 

Kok ado sijarum pata Usah disimpan dalam peti Latakkan sajo di pamatang Buliah pancukia-cukia duri Kok ado susunan yang salah usah bakato dalam hati Latakan sajo ka balakang supayo jan di upek puji

 

Hai kawan sanak saudaro Kok ado susunan sasek

Maafkan dek kawan nan mam bacoMaklum dicari dari tahun tigo ampek

 

 

BAB I

AWAL BERDIRI AISYAH

 

Setelah kembalinya Nenek Maimana dari rantau Pada tahun 1934 kemudian dia diajak oleh mamak suku melayu untuk mengajar anak-anak Pulau Punjung dan sekitarnya maka diserahkan sebuah surau yaitu Surau Jambak untuk belajar membaca Al-Qur`an dan budi perkerti Minang Kabau serta ajaran agama Islam

  1. Wali murid Ikut serta menuntut ilmu

 

Pada malam hari beberapa orang dari wali murid ingin belajar bersama Nenek Maimana, nenek itu tidak menolak bahkan menerimanya dengan senang hati, rupanya pengajian tersebut disukai masyarakat Pulau Punjung dan sekitarnya.

Dengan pulangnya Nenek Maimana dari rantau merupakan salah satu daya tarik pengajian yang diadakan oleh nenek maimana, sehingga pengajian tersebut semakin lama semakin banyak diminati masyarakat. Pada akhirnya surau jambak yang begitu kecil dan hanya dengan fasilitas seadanya sehingga pengajian tersebut tidak efektif lagi, apa lagi anak-anak juga mengaji pada waktu yang sama, maka pengajian yang diadakan untuk ibu-ibu wali murid tersebut yang semulanya berpusat di Surau Jambak kemudian diadakan kerumah-rumah peserta pengajian yang dilakukan pada malam hari sesudah sholat Isya,

Pengajian tersebut dilakukan dengan membaca nolam berirama supaya ibu-ibu peserta pengajian tidak bosan dan mengantuk, pengajian tersebut terus berlanjut selama satu tahun yaitu sampai pada tahun 1935

  1. Aisyiyah Bangkit di Tahun 1935

 

Pada suatu hari nenek Hj Ummama berbincang dengan Nenek Maimana menceritakan tentang keadaan ibu-ibu di Pulau Punjung, perbincangan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk mengadakan pengajian agama islam di Surau Godang pasar lama pada siang hari yang dilaksanakan 1 kali dalam 1 minggu yaitu pada hari sabtu.

Keesokan hari Nenek Maimana menceritakan hasil kesepakatannya dengan nenek Hj Ummama kepada ibu-ibu yang telah berkumpul di Surau Jambak, setelah Nenek Maimana menceritakan hal tersebut maka terjadi dua pendapat, pendapat pertama menerimanya dengan senang hati, sedangkan pendapat yang kedua menolaknya dengan alasan “karena kami pada siang hari pergi bekerja kesawah, sebab hampir semua ibu-ibu adalah anggota Tobo Tagunda-gunda” Setelah alasan tersebut disampaikan maka tanpa disengaja Nenek Maimana tersenyum mendengarnya, kemudian nenek Maimana berkata, “bagi yang sanggup datang siang ya datang lah, tapi siapa yang tidak sanggup siang

 

 

malam pun juga boleh, semuanya tidak ada paksaan” setelah nenek maimana menyatakan hal tersebut baru suasana menjadi tenang.

Dua hari kemudian pengajian yang dilaksanakan di malam hari berubah menjadi pengajian di siang hari bertempat di Surau Godang pasar lama, di Surau Godang tersebut nenek maimana melaksanakan pengajian dengan ditemani oleh beberapa temannya, Yaitu

    1. Hj Ummamah
    2. Patimah
    3. Soru
    4. Dll

 

Kemudian ibu-ibu masyarakat Pulau Punjung dan sekitarnya mulai berkumpul meramaikan pengajian tersebut, kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk menyusun kegiatan dengan susunan acara:

  1. Protokol
  2. Pembacaan Al-Qur`an
  3. Diskusi tentang agama
  1. Berangsur-angsur Aisyiyah diperkenalkan

 

Setelah pengajian tersebut berjalan tujuh bulan nenek maimana memulai dengan cara ber angsur-angsur sedikit-sedikit menyebut kata Aisyiyah.

Kemudian pengajian tersebut terus berjalan hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan masih dalam tahun yang sama (1935)

Pada kesempatan lain nenek Maimana yang ditemani beberapa orang teman memberanikan diri berbincang-bincang dengan nenek Hj Ummama, Nenek Maimana mengusulkan “bagaimana jika pengajian yang kita laksanakan kita beri nama dengan pengajian Aisyiyah?”. Nenek Hj Umamma menjawab dengan hati yang tenang sambil tersenyum ia berkata “itu sangat baik sekali supaya masyarakat kita bertambah semangat untuk menuntut ilmu agama”. Kemudian nenek Hj ummama menambahkan lagi “bagaimana kita bikin dua kelompok, yaitu kelompok Aisyiyah pengajiannya dilaksanakan hari Jum`at dan kelompok yang satu lagi bernama kelompok Islam”. Kemudian nenek Fatimah membantah sambil tersenyum “kalau begitu kami mengadakan pengajian ini ditempat yang lain” bantahan tersebut langsung dikomentari oleh Nenek Soru “pengajiannya kita laksanakan di Surau Tinggi saja”.

Maka pengajian tersebut terpecah menjadi dua kelompok, Kelompok pertama pengikut nenek Hj Ummama dilaksanakan di Surau Godang pada hari sabtu, sedangkan kelompok kedua pengikut Nenek Maimana dilaksanakan di Surau tinggi pada hari Jum`at

 

 

Disaat pengajian sudah mulai menetap di Surau Tinggi kemudian dilanjutkan dengan penyusunan pengurus Aisyiyah cabang Pulau punjung pertama kalinya.

SUSUNAN PENGURUS AISYIYAH CABANG PULAU PUNJUNG TAHUN 1935 H

Ketua I             : Nenek Maimana

Ketua II           : Patima

Sekretaris         : P Pencel

Bendahara       : Soru

Pembantu         : a. Totap

  1. Saripa
  2. Hj Sopia
  3. Dkk

 

Setelah kepengurusan tersebut tersusun, bapak-bapak Muhammadiyah sangat gembira melihat aisyiyah berjalan penuh dengan semangat, Muhammadiyah selalu setia mendampingi Aisyiyah, dimana Muhammadiyah berada disitu juga ada Aisyiyah. Hal tersebut berlangsung sangat lama secara terus menerus.

Meski Aisyiyah sudah terbentuk tetapi pengajian yang dilaksanakan pada malam hari dari rumah kerumah yang dipimpin oleh nenek Maimana tidak ketinggalan, tetap berjalan dengan semangat.

 

 

BAB II

AWAL BERDIRI MUHAMMADIYAH

 

Pada tahun 1933 Kauman Padang Panjang mengutus Dt Pokiah Sati, Dt H Usman dan Dt Sutan mangkuto ke Pulau Punjung untuk memperkenalkan Muhammadiyah kepada warga Pulau Punjung.

  1. Pada tahun 1936

 

Pada suatu malam H Umar dan H Ismail datang ke Surau Jambak, mereka melihat Ibu-ibu akan berangkat melaksanakan pengajian dari rumah-kerumah dengan gembira dan hati yang sangat riang, Melihat hal tersebut H umar dan H Ismail sangat gembira melepasnya karena ditempat lain tidak ada hal seperti ini.

Kemudian H umar dan H Ismail pergi menemui bapak-bapak Muhammadiyah yang lain.

  1. Tokoh besar dipencara, Umar Salim (Malin Muhammad), Ali Imran (Kotik Kayo) dan Abdul Rahman (Kotik Lobiah)

Hari minggu merupakan hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh para pedagang, karena hari minggu adalah hari balainya warga Pulau Punjung, tetapi hari minggu saat itu sangat berbeda dan sangat mengharukan, karena disaat pasar sedang ramai dikunjungi warga untuk melakukan jual beli disaat itu pengunjung pasar terkejut karena dengan seketika saja datuak Umar Salim, Ali imran dan Abdul Rahman digiring oleh serdadu belanda, kedua tangan mereka dirantai, datuak umar salim berada di posisi tengah, semua pengunjung pasar  hanya terpana tanpa berucap apa-apa disaat melihat serdadu belanda menggiring tiga tokoh Muhammadiyah tersebut, tokoh Muhammadiyah tersebut dipenjarakan di Muaro Sijunjung selama tiga bulan,

Kebiasaan didalam penjara dimasa itu setiap ada tahanan baru yang masuk selalu mendapat sambutan dari tahanan terdahulu, sambutanya berupa pengeroyokan secara bersama, sehingga banyak korban jiwa yang terjadi didalam penjara belanda tersebut, tetapi dengan rahmat Allah SWT Tiga orang tokoh Muhammadiyah tersebut tidak mendapatkan perlakukan yang sama dengan para tahanan lain, karena selama perjalanan dari Pulau Punjung menuju Muaro Sijunjung datuak Umar salim selalu bertasbih dan berzikir sambil menyerahkan diri kepada Allah SWT agar diberi perlindungan.

Selama didalam penjara tiga orang tokoh tersebut diberi makan hanya dengan nasi yang sudah tercampur pasir dan hanya dengan satu buah cabe, satu bulan sudah berlalu didalam penjara sehingga datang tahanan lain menghampiri Datuak Umar salim ia menyampaikan maksudnya untuk belajar sholat, karena

 

 

setiap datang waktu sholat Datuak umar salim dan kedua tokoh Muhammadiyah tidak pernah meninggalkan Sholat,

Dengan adanya tahanan lain yang datang menemui Datuak umar Salim untuk diajarkan tata cara sholat maka waktu senggang pun dilalui oleh tokoh Muhammadiyah ini dengan mengajarkan para tahanan lain Sholat, sehingga disaat Datuak umar Salim dan dua orang lainnya diperbolehkan pulang maka semua tahanan menangis sedih berpisah dengan tokoh Muhammadiyah tersebut.

Tiga orang tokoh Muhammadiyah tersebut dipenjara karena telah mendirikan sekolah Muhammadiyah. karna disaat penjajahan tersebut sangat susah untuk melakukan apapun, apalagi mendirikan sekolah Muhammadiyah.

  1. Gotong Royong memakan korban

Disaat masyarakat Muhammadiyah dan Aisyiyah bekerjasama membangun sekolah Muhammadiyah pasar lama semuanya bekerja dengan penuh semangat mengambil pasir dari samping Masjid Raya kemudian di angkut ke tempat pembangunan sekolah

Disaat gotong royong tersebut tebing yang ada di samping Masjid Raya runtuh seketika sehingga menyebabkan beberapa orang masyarakat yang ikut gotong royong tertimbun, disaat suara tebing bergemuruh semuanya terkejut dan melafaskan kalimah Allah. Dengan rasa cemas dan takut semuanya bergegas menolong, ada yang hanya tertimbun hingga pinggangnya saja, bahkan ada yang benar-benar sudah hilang tertimbun reruntuhan tebing pasir.

Masyarakat yang menolong berusaha dengan segera menolong korban yang tertimbun keseluruhan karena menurut mereka ini yang harus mendapat pertolongan segera sebab tidak bisa bernafas,

Sedangkan korban yang hanya tertimbun hingga pinggang saja selalu meraung-raung kesakitan sambil menunjukan arah korban yang hilang.

Korban yang tertimbun secara keseluruhan bernama Rajo Gondan, karena musibah tersebut Rajo Gondan meninggal dunia dalam keadaan mati syahid.

  1. Mimpi yang mengembirakan

Salah seorang masyarakat Pulau bermimpi yang sangat mengembirakan buat warga Muhammadiyah, kemudian ia menceritakan kepada orang banyak, Dalam mimpi tersebut ia melihat bukit besar seperti bukit gunung selasih, bukit tersebut sedang ditarik oleh tiga orang tokoh Muhammadiyah, Yaitu:

    1. Umar salim (Malin Muhammad)
    2. Ali Imran (Kotik Kayo)
    3. Abdul Rahman (Kotik Lobiah)

Mereka menariknya dengan menggunakan tiga helai tali, sehingga menyebabkan bukit tersebut bergoyang-goyang dan akhirnya runtuh, dari

 

 

reruntuhan bukit tersebut terlihat keluarnya Penghulu atau datuak duo bole Pulau Punjung, kemudian datuak duo bole tadi menghampiri orang-orang yang menarik bukit tersebut.

Mimpi tersebut sempat mengemparkan warga Pulau Punjung, dan bermacam-macam pendapat muncul disaat itu untuk mengartikan mimpi tersebut.

  1. Langkah Aisyiyah Mulai Diikuti

Dengan kegigihan dan perjuangan Warga Asyiyah sehingga pada tahun 1939 hampir semua masyarakat Pulau Punjung dan sekitarnya sudah mengikuti langkah-langkah Aisyiyah dan Muhammadiyah secara lambat-lambat atau sedikit demi sedikit.

 

 

Description: D:My DocumentsFoto-0046.jpgFoto Bersama Ibu-ibu Aisyiyah peserta Muswil di Pasar Aur Bukit Tinggi, pada tahun 1939, Nenek Maimana dan fatimah sebagai utusan Aisyiyah Cabang pulau Punjung (dog Maria Kubtiah)

 

 

BAB III MEMBANGUN

  1. Aisyiyah Membangun Surau

Pada suatu hari datang bapak-bapak Muhammadiyah berkunjung ketempat Nenek Maimana, kunjungan tersebut untuk mengajak Nenek Maimana agar mambangun surau kepunyaan Aisyiyah, Bahkan H Umar mewakafkan tanahnya untuk mendirikan Surau Aisyiyah tersebut, bertempat di bawah Masjid Raya Pasar Lama, tidak lama setelah itu surau mulai di bangun,

  1. Aisyiyah dimasa penjajahan

Dalam keadaan terjajah oleh Belanda disaat itu semua masyarakat dalam keadaan kacau, Hampir semua Masyarkat mengungsi ke sawah bahkan ada yang mengungsi kedalam hutan, disaat itu penghidupan sangat susah, bahkan untuk makan mereka harus mencampur nasi dengan ubi dan pisang, beriring dengan masa penjajahan tersebut maka perjuangan Aisyiyah terhenti, zaman tersebut disebut zaman agaresi ke dua

Disaat tahun 1942 Jepang masuk Belanda lari maka Indonesia dijajah oleh jepang yang terkenal sadis dan ganas, dalam keadaan demikian Aisyiyah muncul kembali walaupun dimasa penjajahan Jepang. Aisyiyah tetap semangat tanpa ada yang dapat menghalangi semangat Aisyiyah.

Surau Jambak cita dipadu Surau tinggi tempat membina

Jangan lah kita bimbang dan ragu Dengan iman menuju takwa

  1. Robohnya Surau Aisyiyah

Tahun 1943 Datuak H umar datang menemui nenek maimana untuk membicarakan tentang perkembangan dan pergerakan Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk masa selanjutnya, dalam perbincangan tersebut datuak H umar mengajak agar pengajian Aisyiyah pindah ke Surau yang telah diperuntukan untuk Aisyiyah di bawah mesjid raya Pasar lama Pulau Punjung, tetapi kondisinya dalam keadaan terbengkalai, surau tersebut dibangun bertingkat dua, yang direncanakan lantai bawah untuk pengajian ibu-ibu Aisyiyah dan lantai kedua atau lantai atas untuk pengajian anak-anak,

Malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih, tidak lama setelah ajakan dari Datuak H Umar tersebut maka datang Angin Limbubu (Angin Topan) yang sangat kuat sehingga merobohkan surau tersebut, untung saja dalam musibah ini tidak memakan korban jiwa, melainkan hanya seekor sapi yang sedang diikat di tiang surau, sapi tersebut tertimpa oleh reruntuhan bangunan surau hingga

 

 

akhirnya sapi tersebut mati ditempat. Padahal sapi tersebut sangat gemuk dan pemiliknya H Umar merencanakan untuk mengorbankan kan sapi tersebut disaat Hari Raya Idul Adhah tahun datang.

Dengan terjadinya musibah tersebut semangat H Umar dan warga Aisyiyah kemudian dibantu bapak-bapak Muhammadiyah maka surau Aisyiyah dibangun kembali tetapi hanya satu lantai saja atau tidak bertingkat lagi karena kekurangan biaya.

Pembangunan surau tersebut secara berangsur-angsur dengan bahan seadanya yaitu dinding yang terbuat dari Anyaman Bambu (tadiu) sedangkan atapnya separoh dari daun Jilalang yang disusun rapi sehingga air hujan tidak masuk lagi sedangkan atap yang separoh lagi dari atap seng bekas.

Dengan sifat Dermawannya ibu-ibu Aisyiyah bahkan hasil ternak ayamnya disumbangkan untuk pembangunan Surau Asiyiyah, bahkan ada di antara mereka yang menyumbangkan hasil pertanian pisang dan hasil dari buah kelapa untuk melanjutkan pembangunan surau Aisyiyah.

Meski surau Aisyiyah dalam keadaan terbengkalai tetapi ibu-ibu Aisyiyah tidak sabar lagi untuk mengadakan pengajian di surau Aisyiyah yang baru, Lebih- lebih para pengurus yang ingin segera pindah kesurau Aisyiyah baru.

Meski surau tersebut dalam keadaan terbengkalai tetapi ibu-ibu aisyiyah menganggap sudah selesai karena keadaan ekonomi yang sangat serba kesusahan disaat itu, tetapi langkah Aisyiyah tidak terganggu oleh hal tersebut, bahkan Aisyiyah berjalan dengan penuh semangat.

Perjalanan Aisyiyah jika digambarkan seperti perjalanan Siput yang kecil, jalan perlahan-lahan tetapi pasti yang ingin sampai kepada tujuannya, Insyaallah dengan niat yang tulus Allah SWT akan menolong kita.

  1. Mulai lahirnya Ranting-ranting Aisyiyah
    1. Ranting Sungai Kambut                 Tahun 1944
    2. Ranting Kampung Surau                Tahun 1944
    3. Ranting Lubuk Bulang                   Tahun 1944
    4. Ranting Siluluk                              Tahun 1945
    5. Ranting Sungai Lansek                   Tahun 1946
    6. Ranting Takuang                            Tahun 1947
    7. Ranting Timpeh                             Tahun 1947

Dengan berdiri banyak ranting maka warga Aisyiyah dan Muhammadiyah sangat gembira dan semangat sekali. Sehingga Nenek Maimana mengadakan kunjungan ke ranting Siluluk dan ranting Sungai lansek sebulan sekali, dengan menggunakan   perahu   kecil   Nenek   Maimana   ditemani   suaminya   Datuak H Umar Salim. Sedangkan kunjungan ke ranting lain dengan berjalan kaki dan mengunakan biaya sendiri, begitulah perjuangan Aisyiyah dan Muhammadiyah disaat itu.

 

 

BAB IV PEROMBAKAN PENGURUS

  1. Perombakan Pengurus Tahun 1950

Pada tahun 1950 dibubarkannya pengurus lama maka dibentuk pengurus

baru

SUSUNAN PENGURUS AISYIYAH CABANG PULAU PUNJUNG TAHUN 1950 H

Ketua I             : Nenek Maimana

Ketua II           : Patima Sekretaris I    : Maria Kubtiah Sekretaris II   : Rohana Bendahara    : Hj Maryam Pembantu     : a. Totap

  1. Nurlan
  2. Sa`adah
  3. Tiopa
  4. Dan Lain-lain

Dengan perubahan pengurus tersebut maka Aisyiya h berjalan dengan lancar, sehingga masyarakat Pulau Punjung juga seiya sekata.

  1. Perombakan Pengurus Tahun 1955

Pada tahun ini terjadi perombakan pengurus kembali

SUSUNAN PENGURUS AISYIYAH CABANG PULAU PUNJUNG TAHUN 1955 H

Ketua I             : Nenek Maimana

Ketua II           : Patima Sekretaris I    : Asma Salim Sekretaris II       : Siti Hawa Bendahara : Hj Maryam Pembantu : a. Totap

  1. Hj Sopia
  2. Sa`adah
  3. Ji`a Rumah bukir
  4. Dan Lain-lain

Dua tahun setelah pemilihan pengurus Aisyiyah yaitu pada tahun 1957 terjadi perang saudara antara tentara pusat dengan PRRI, semua warga mengungsi kemana-mana, sehingga pengajian Aisyiyah terhenti, Pada tahun 1960 setelah perang saudara tersebut usai maka Aisyiyah kembali lagi dengan penuh semangat.

 

 

Description: D:My DocumentsFoto-0043.jpgFoto bersama ibu-ibu Aisyiyah cabang Pulau Punjung Pada tahun 1947 di depan surau Aisyiyah pasar lama Pulau Punjung (dog Maria Kubtiah)

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Sekolah Surau Jambak

Setelah terjadinya perang saudara tersebut maka suasana sangat kacau, bahkan pendidikan agama tidak ada. Sehingga hal tersebut menjadi buah pikiran semua orang yang sangat mementingkan pendidikan termasuk seorang janda yang telah ditembak mati suaminya, oleh tentara pusat disaat perperangan PRRI yaitu kita sebut saja Maria Kubtiah, Maria Kubtiah memikirkan jika pendidikan agama tidak diberikan kepada anak-anak bagaimana generasi kita selanjutnya. Dengan tekat yang besar dan semangat yang kuat serta kemauan yang tinggi akhirnya Maria Kubtiah tidak berpikir panjang lagi ia mengumpulkan beberapa orang murid Sekolah Rakyat (SR) yang masih buta dengan ilmu pengetahuan agama, kemudian murid-murid tersebut diajak untuk bersekolah di Surau Jambak.

Sekolah tersebut dimulai pada tanggal 03 Desember 1960 dengan dua

orang guru, Yaitu: Dawis Angge dan Maria Kubtiah itu sendiri, Proses belajar dimulai setiap pukul 14,00 wib, pada minggu pertama sekolah ini hanya memiliki 14 orang murid, sedangkan pada mingu-minggu selanjutnya selalu mengalami peningkatan sehingga minggu kedua memiliki murid 27 orang, minggu ketiga 61 murid, dan pada minggu ke empat memiliki murid lebih kurang 100 orang.

Dengan banyaknya peminat yang ingin belajar di Surau Jambak maka dijadikan menjadi empat kelas yaitu kelas 1, 2, 3 dan 4, meski sekolah tersebut sudah memiliki murid 100 orang dan memiliki empat buah kelas tetapi guru yang mengajar tetap Dawis Angge dan Maria Kubtiah saja yang mengajar disekolah yang belum ada namanya, tetapi warga masyarakat Pulau Punjung menyebutnya sekolah Surau Jambak.

 

 

Sekolah Surau Jambak tetap berjalan dengan penuh semangat menyampaikan ilmu-ilmu agama sehingga tidak terasa sekolah tersebut sudah berusia 5 bulan, murid-murid sangat gembira menerima pelajaran agama, karena di Sekolah Rakyat (SR) Pendidikan agama yang diajarkan belum memadai atau mencukupi.

Ternyata berita sekolah yang dilaksanakan di Surau Jambak sampai ke Kantor Urusan Agama (KUA) dimasa itu, meski sekolah ini hanya dilaksanakan secara Non Formal tanpa mengirimkan laporan tentang sekolah tersebut.

Pada suatu hari datang seorang pegawai Kantor Urusan Agama Tersebut berkunjung ke Surau Jambak, Ia melihat anak-anak yang sedang belajar dengan penuh semangat, disaat itu ia mengunjungi kelas 3 yang sedang menghafal pelajaran Mahfuzat kemudian ia mengunjungi kelas 4 yang sedang belajar Muhadasah, dengan melihat seperti itu alangkah gembiranya hati bapak tersebut melihat murid-murid belajar dengan semengat, tanpa disengaja sambil memperhatikan hal tersebut maka ia tersenyum dengan senangnya.

Disaat sekolah istirahat maka bapak pengawai Kantor Urusan Agama tersebut berbincang-bincang dengan guru, ia menganjurkan agar sekolah tersebut berpindah tempat ke sekolah Muhammadiyah pasar lama, karena kondisi Surau Jambak yang tidak memungkinkan lagi menampung begitu banyak murid, apalagi sekolah Muhammadiyah tidak lagi berfungsi sebagai sekolah karena sekolah yang lama telah bubar semenjak terjadinya perang PRRI.

Hal tersebut ditanggapi dengan senang hati oleh para guru sehingga keesokan harinya murid-murid dan didampingi oleh guru-guru berbaris-baris dari surau jambak menuju sekolah Muhammadiyah, sesampainya disekolah Muhammadiyah semuanya terkejut karena melihat sekolah yangat memprihatinkan, atap yang bocor, dinding yang berlubang, lantai yang pecah, bahkan lebih banyak lantai yang pecah dari pada lantai yang bagusnya.

Meski keadaan sekolah tersebut sudah sangat memprihatinkan tetapi semangat murid dan guru untuk menuntut ilmu pengetahuan tidak surut, bahkan semenjak mereka menginjakkan kaki disekolah tersebut jiwa Muhammadiyah langsung tertanam pada diri mereka semua. Sehingga mereka belajar dengan penuh semangat, pelajaran dimulai setiap hari pada pukul 14;00 wib setelah murid-murid pulang dari Sekolah Rakyat (SR)

 

  1. Perombakan Pengurus Tahun 1965

Setelah 10 tahun kepengurusan Aisyiyah maka terjadi perombakan pengurus lagi, Yaitu:

 

 

SUSUNAN PENGURUS AISYIYAH CABANG PULAU PUNJUNG TAHUN 1965 H

Ketua I             : Siti Hawa

Ketua II           : Asma Salim Sekretaris I         : Rohana Sekretaris II   : Hj Badi`ah Bendahara                        : Hj Maryam Pembantu           : a. Sa`adah

  1. Maruyat
  2. Nurlan
  3. Maria Kubtiah
  4. Dan Lain-lain

 

 

Program kerja pengurus pada periode tersebut adalah mendirikan rumah sakit bersalin yaitu BKIA, sehingga pada tahun 1966 dimulai pengumpulan dana dengan cara memungut beras bergenggam perminggu dari seluruh  warga Aisyiyah disaat pengajian aisyiyah di Surau Aisyiyah. Dan panitia pembangunan juga menjalankan Les Sumbangan (Proposal Pembangunan) setiap hari minggu di pasar pulau punjung dan sekitarnya, bahkan pemungutan beras genggam juga dilakukan dari rumah kerumah, pengumpulan dana tersebut berlangsung selama dua tahun, kemudian panitia pembangunan dan segenap pengurus Aisyiyah dan pengurus Muhammadiyah dan seluruh Warga Muhammadiyah dan Aisiyah mulai membangun rumah Sakit Bersalin (BKIA)

Dengan semangat yang tinggi sehingga pembangunan rumah sakit bersalin tersebut selesai, tetapi karena kurangnya tenaga medis dan tidak adanya fasilitas sehingga gedung yang direncanakan untuk rumah sakit bersalin dijadikan Sekolah Taman Kanak-kanak/ TK Aisyiyah. Dalam hal ini penulis dan segenap warga Aisyiyah berpesan agar cita-cita orang tua kita diwujudkan meski dalam waktu yang lama.

 

 

 

 

 

 

  1. Awal berdiri TK Aisyiyah

 

BAB V

TK AISYIYAH

 

Dengan dibangunnya gedung Rumah sakit bersalin Aisiyah tetapi tidak dapat terwujud karena beberapa alasan maka gedung tersebut di alih fungsikan menjadi TK Aisyiyah

  1. TK Aisyiyah Diresmikan

Setelah seluruh warga Aisyiyah dan warga Muhammadiyah sepakat untuk mendirikan TK Aisyiyah maka pada tahun 1970 TK Aisyiyah tersebut diresmikan dan langsung penerimaan murid pertama, penerimaan pendaftaran dilakukan oleh Martinis Am dan dibantu oleh Teman-teman yang lain, Seluruh warga Aisyiyah terkejut gembira karena pendaftaran pertama sudah mendaftar murid berjumlah 50 orang, hal ini membawa angin segar bagi warga Aisyiyah, Sehingga pada tahun tersebut langsung berjalan proses belajar mengajar.

Tahun 1971 pengurus meneruskan pembangunan dan berusaha mendapatkan apa- apa saja yang diperlukan untuk pendidikan, perjuangan dan usaha tersebut terus berjalan sampai akhirnya sekolah TK Aisyiyah menjadi sekolah Terfaforit dimasanya yang diminati banyak orang,

Description: D:MANGETIKSejarah AisiyahFoto-0048.jpg

 

 

Guru dan Murid TK Aisyiyah Foto bersama 2 September 1970

 

 

 

 

 

 

  1. Tahun 1975

 

BAB VI

AMAL USAHA AISYIYAH

 

Ditahun 1975 Aisyiyah terus memperjuangkan amal usahanya untuk membantu anak yatim, menolong orang miskin, dan membantu murid-murid sekolah yang akan melasksanakan kegiatan di dalam daerah atau kegiatan yang diluar daerah,

  1. Tahun 1980

Pada tahun ini Aisyiyah dan Muhammadiyah bekerja sama untuk meneruskan pendidikan dikomplek perguruan Muhammadiyah, yaitu anggota Aisyiyah mulai menabung untuk pembangunan Asrama Putri

  1. Tahun 1985

Pada tahun 1985 Asrama putri mulai dibangun secara berangsur-angsur sebab Aisyiyah juga membantu yang lain, seperti anak sekolah yang kesulitan biaya, orang terlantar, orang sakit, pembangunan mesjid raya, dan memperbaiki Surau Aisyiyah yang rusak

  1. Tahun 1990

Kepengurusan Asiyiyah Cabang Pulau Punjung melakukan pemilihan kepengurusan kembali, yaitu dengan dibubarkannya pengurus yang lama maka dibentuk pengurus yang baru.

SUSUNAN PENGURUS AISYIYAH CABANG PULAU PUNJUNG TAHUN 1990 H

Ketua I             : Asma Salim

Ketua II           : Siti Hawa Sekretaris I           : Hj Badi`ah Sekretaris II   : Maria Kubtiah Bendahara      : Hj Maryam Pembantu            : a. Ji`a rumah bukir

  1. Panggonti
  2. Syamsi`ah
  3. Rawiyah
  4. Dan Lain-lain

Description: D:My DocumentsFoto-0044.jpgDengan terpilihnya pengurus yang baru aisyiyah berjalan dengan tenang, pada periode ini Aisyiyah melangkahkan segala amal usahanya yang didambakan oleh nenek kita.

foto bersama ibu-ibu aisyiyah cabang Pulau Punjung didepan surau Aisyiyah Pasarlama Pulau Punjung tahun 1992 (dog Maria Kubtiah)

 

 

 

 

 

 

    1. Muscab Terpadu

 

BAB VII

AISYIYAH DIZAMAN MODEREN

 

Seiring dengan bergantinya tahun maka pada tahun 2000 di adakan Musyawarah cabang terpadu Muhammadiyah, Aisyiyah, dan IRM pada tanggal 14 April 2000 di TK Asiyiyah Bustanul Athfal Pulau Punjung, dalam Muscab tersebut mendapatkan hasil Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) sebagai berikut.

 

 

SUSUNAN PENGURUS AISYIYAH CABANG PULAU PUNJUNG TAHUN 2000 H

Ketua I             : Martinis AM

Ketua II           : Darusa Sekretaris I   : Husmiati Sekretaris II  : Elita Bendahara                        : Zairusti Pembantu    : a. Nurlis

b. Nur`aini

c. Yardawati Sofyan, S. Ag

 

 

    1. Kegiatan tambahan PCA
      1. Posyandu lansia

Pengurus yang terpilih melalui Muscab tersebut menambahkan kegiatan yaitu posyandu lansia atau posyandu yang dikhususkan untuk ibu-ibu lanjut usia, kegiatan tersebut kerjasama antara PCA dengan pihak puskesmas yang sengaja didatangkan satu kali dalam satu bulan.

      1. Senam Lansia

Dengan adanya kegiatan senam lansia dari pemerintah maka anggota Aisyiyah cabang pulau punjung tidak ketinggalan, mereka melakukan senam lansia setiap minggunya, yaitu dilaksanakan setiap hari jum`at sebelum pengajian aisyiyah.

Senam tersebut juga dilaksanakan di beberapa jorong, yaitu jorong Sungai Kambut, Kampung surau, lubuk bulang, pasar lama dan tidak ketinggalan jorong pulau punjung. Bahkan senam tersebut  diperlombakan oleh pemerintah setempat.

 

      1. Tabungan Akhirat

Dalam setiap pengajian yang dilaksanakan sebulan sekali maka dikumpulkan sebuah sumbangan yang diberi nama tabungan akhirat,

 

 

dipergunakan untuk membantu pendidikan anak-anak yang di anggap kurang mampu dalam melanjutkan pendidikan,

    1. Pengajian Aisyiyah Pindah Tempat

Dengan pindahnya pasar lama ke pasar baru sehingga banyak diantara ibu- ibu aisyiyah yang mengusulkan untuk pindah juga ke TK Aisyiyah, karena menurut mereka tempat yang kita gunakan sekarang untuk pengajian sudah sepi, yaitu tahun 2004

    1. Aisyiyah di awal tahun 2012

Ditahun 2012 diadakan Muscab Aisyiyah, sehingga kepengurusan Aisyiyah berganti kepada pengurus yang baru, dalam pergantian kepengurusan tersebut pengurus lama berharap agar pengurus baru akan menambahkan kegiatan Asiyiyah yang baru, supaya Aisyiyah cabang Pulau Punjung semakin maju sehingga menjadi contoh bagi Aisyiyah cabang yang lain.

 

SUSUNAN PENGURUS AISYIYAH CABANG PULAU PUNJUNG TAHUN 2012 H

 

PENASEHAT              : a. Martinis

  1. Hj Jamila
  2. Khadijah
  3. Hj Nurjani

 

Ketua                           : Nafliana

Wakil Ketua                 : Hj Syamsidar

Wakil Ketua                 : Asnidar

Wakil Ketua                 : Kambaria

Wakil Ketua                 : Pedrigo Devila

Sekretaris                     : Nurhayati Wakil Sekretaris                                    : Irmawati Bendahara : Nilda AM Wakil Bendahara   : Rawiyah

 

      1. Majlis Tabligh

Ketua                     : Elita

Sekretaris               : Raliani Taher

Bendahara             : Hj Khamsiyah

Anggota                 : a. Hayattun Sa`adah

b. Hj Darmaini

c. Mayandra Wati

      1. Majlis Dikdasmen

Ketua                     : Zairusti

Sekretaris               : Yanti Coni

Bendahara             : Yeni Putri

Anggota                 : a. Ratnawati

b. Rika Tilawati

 

 

      1. Majlis Ekonomi

Ketua                     : Wismar

Sekretaris               : Parida Irul

Bendahara             : Harti Man

Anggota                 : a. Hardanita

b. Hel Tesco

      1. Majlis Kesejahteraan sosial

Ketua                     : Jus Nimar

Sekretaris               : Neti Aprila

Bendahara             : Harti Ipen

Anggota                 : a. Yutna Puri

b. Neng Kasbin

      1. Majlis Pembinaan Kader

Ketua                     : Gusmayar

Sekretaris               : Tutwuri Handayani

Bendahara             : Kartini H

Anggota                 : a. Darmaina

b. Darliati

      1. Majlis Kesehatan

Ketua                     : lusi Rusdin

Sekretaris               : Amrina

Bendahara             : Musnaini

Anggota                 : a. Helmiati

b. Hj Sabariah

      1. Majlis Hukum/ HAM

Ketua                     : Lovida

Sekretaris               : Ismi Fajriati

Bendahara             : Kartini AM

Anggota                 : a. Eli rosita

b. Pitri Yeni

      1. Lembaga Kebudayaan

Ketua                     : Mardayanti

Sekretaris               : Mira Cania

Bendahara             : Suwarni

Anggota                 : a. Erlin

b. Itin